Saya kembali pada point saya. Masih dalam buku yang sama milik Ahmad Suhelmi yang pernah saya baca berjudul “Polemik Negara Islam”, menyebutkan tahun 1920 – 1930 adalah dekade ideologi.
Pada tahun-tahun ini, tokoh-tokoh bangsa berpolemik tentang ideologi mana yang cocok untuk dijadikan dasar negara saat merdeka nanti. Dalam buku ini digambarkan secara rinci pertengkaran pikiran antara Soekarno yang ingin agama di sekulerisasi dalam negara, melawan M Natsir yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara.
Kemudian mereka bertengkar secara terbuka melalui tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar. Jika pembaca tertarik lebih jauh, silahkan baca bukunya. Saya belum mempunyai kapasitas untuk menjelaskan.
Tapi yang ingin saya garis bawahi adalah, sekeras bagaimanapun Bung Karno dan Pak Natsir saling beradu gagasan, bahkan saling menyerang pikiran masing-masing, mereka tetaplah sekawan seperjuangan. Tak pernah melibatkan perasaan. Dalam hal ideologi mereka terus bertengkar, tetapi untuk kemerdekaan Indonesia mereka selalu bersatu. Menjadi tokoh besar bangsa ini.





