Jangan bilang orang lain yang melukai kita, tapi kita yang terlalu sempit menilai orang lain dalam hal berpolitik. Apa salahnya untuk saling memaklumi dan saling mengerti.
Tapi lihatlah masyarakat kita, bahkan karena beda pilihan politik, bisa saling menyerang pribadi pada teman kerabat bahkan keluarga kita sendiri.
Tidak jarang yang saling menyinggung di sosial media sampai perceraian antar suami istri. Padahal sebagai sesama partisipan politik, kita hanya dibolehkan saling mendebat argumen. Sekali lagi tanpa harus melibatkan perasaan.
Sebagai tambahan, perihal yang sering saya ulang dalam beberapa diskusi publik, bahwa saling kritik, saling serang dan adu argumen itu bagian daripada demokrasi. Jadi tidak boleh sakit hati.
Tidak ada demokrasi yang adem ayem hanya sekedar bicara visi misi. Karena dalam visi misi itu pasti tertuang semua cita-cita yang baik. Justru fungsi kritik adalah membedah cita-cita mana yang rasional diwujudkan, dan mana yang omongkosong belaka. Mungkin hal ini bisa saya jelaskan lebih jauh di tulisan saya yang lain.





