Saya membaca buku-buku politik sudah sejak lama. Termasuk istilah parokial ini saya dapatkan karena membaca satu buku yang ditulis Ahmad Suhelmi. Saya mempelajari politik bukan maksud ingin jadi politisi, saya tetap jadi pelaut sampai hari ini.
Hanya saja saya sadar, Indonesia maju itu hanya bisa tercipta dengan politik yang juga maju. Politik harus diasuh dengan mengasah pikiran. Bukan terlalu dalam melibatkan perasaan dan ikut terjebak dalam lingkaran budaya politik parokial tersebut.
Inilah yang menjadi point penulis. Menurut saya, budaya politik parokial ini yang mengakibatkan tumbuhnya “Politik Baper” dalam masyarakat kita. Baper atau bawa perasaan sebenarnya tidak salah.
Sebagai manusia yang memiliki hati, tentu punya perasaan. Tetapi menjadi keliru jika dibawa terlalu jauh kedalam ruang dan dimensi politik. Karena sejatinya politik adalah domain akal dan logika, bukan hati dan perasaan.
Bila kita masih menganut budaya parokial seperti politik baper ini, maka tidak terelakkan untuk kita bisa melukai hati kita sendiri.





