“Banyak warga Sulteng mengubur cita-cita karena ketiadaan biaya, terpaksa harus menahan kesakitan di rumah karena tidak punya biaya,” tuturnya.
Anwar Hafid juga menyinggung anak-anak Sulteng yang mengubur cita-cita karena ketiadaan biaya melanjutkan sekolah.
“Ada yang tamatan SMA tidak punya pekerjaan, sulit mencari pekerjaan dan menjadi beban orangtua,” ujarnya.
Problem pendidikan ini telah disiapkan solusinya Anwar Hafid. Anca-anca dia, total mahasiswa di Sulteng sekitar 104 ribu.
Apabila diberikan per mahasiswa Rp5 juta untuk biaya pendidikan per tahun, hanya membutuhkan sekitar Rp500 miliar.
Di sisi lain, APBD Sulteng sekitar Rp7 triliun. Sesuai regulasi, terdapat regulasi untuk anggaran pendidikan 20 persen dari total APBD.
“Berarti mandatory spending hanya Rp1,4 triliun. Kebijakan saya ingin Rp500 miliar untuk membiayai pendidikan,” paparnya.
Impian Anwar Hafid adalah setiap rumah di Sulteng minimal terdapat satu orang sarjana.
“Tahun 2045 Sulteng Emas akan tercipta,” ujarnya.
“100 ribu mahasiswa saya tutup mata, tidak pilih miskin dan tidak miskin. Itu hak dasar rakyat,” imbuhnya.

















