Ia juga menekankan agar agenda transisi energi hijau benar-benar diarahkan untuk menurunkan struktur biaya.
“Energi terbarukan harus menggantikan pembangkit berbiaya tinggi, bukan sekadar menambah kapasitas. Setiap proyek harus bankable dan berbasis kebutuhan sistem,” tambahnya.
Dengan tren positif sepanjang 2025, PLN dinilai memiliki modal kuat untuk menghadapi target 2026, mulai dari peningkatan efisiensi hingga percepatan energi bersih.
Namun, menurut Noviardi, keberlanjutan kinerja tersebut sangat bergantung pada keberanian manajemen melakukan pembenahan struktural.
“PLN sudah berada di jalur transformasi. Tetapi tanpa disiplin pengelolaan utang, pengurangan oversupply secara bertahap, dan monetisasi peluang transisi energi, kinerja cemerlang hari ini bisa sulit dipertahankan dalam jangka panjang,” katanya.***

















